Nama :
Siti Farikhah
NIM :
3401413054
Rombel: 1
Emile Durkheim : Mendirikan Sosiologi
sebagai satu Ilmu tentang Integrasi Sosial.
Menjelaskan
keteraturan sosial yang mendasar yang berhubungan dengan proses-proses sosial
yang meningkatkan integrasi dan solidaritas.Inilah masalah utama bagi Durkheim
,dan juga salah satu masalaha pokok dalam perspektif fungsional masa
kini,khususnya yang diwakili oleh Parsons dan pengikut-pengikutnya.
Ø
Pokok-Pokok
Pemikiran
1.
Kenyataan
Fakta Sosial
a)
Fakta
Sosial Lawan Fakta Individu
Pernyataan
lain yang muncul dari tekanan Durkheim pada kenyataan gejala sosial menyangkut sifat
dasar kenyataan,Durkheim memecahkannnya secara langsung.Dia bertahan pada
pendiriannya bahwa fakta sosial itu tidak dapat di reduksikan ke fakta individu,melainkan
memiliki eksistensi yang independen pada tingkat sosial.Durkheim dalam melihat
gejala sosial,baik dalam satu kelompok kecil atau dalam masyarakat
keseluruhannya,akan mempertahankan bahwa keseluruhan lebih besar daripada
jumlah bagian-bagiannya.
Fakta
sosial adalah tidak menyatu dengan individu-individu secara utuh tetapi juga
tidak bisa lepas dari individu-individu tersebut. Inti dari fakta sosial ini
yaitu adanya tindakan yang dilakukan disebabkkan karena adanya pola dalam
hubungan sosial itu sendiri.Sedangkan fakta individu,sering disebut sebagai
fakta organis atau fakta psikis. Fakta organis ini merupakan tindakan yang
dilakukan dengan didasari kesadaran individu itu sendiri. sehingga tidak ada
bentuk intervensi dari luar yang memaksa seseorang untuk melakukan tindakan
tersebut karena tidak memerlukan sebuah pola dalam sistem sosial.
Menurut
Emile Durkheim, fakta sosial tidak dapat direduksi menjadi fakta individu,
karena ia memiliki eksistensi yang independen ditengah-tengah masyarakat. Fakta
sosial sesungguhnya suatu kumpulan dari fakta-fakta individu akan tetapi
kemudian diungkapkan dalam suatu realitas yang riil. Memang tidak dapat
dipungkiri bahwa fakta sosial dihasilkan oleh pengaruh dari fakta psikis (sui
generis).
b)
Karakteristik
Fakta Sosial
-Gejala social
bersifat eksternal terhadap individu
-Fakta social
memaksa individu
-Fakta itu
tersebar luas terhadap masyarakat atau bersifat umum.
c)
Strategi
untuk menjelaskan Fakta Sosial
Sesudah
menentukan bahwa penjelasan tentang fakta sosial harus dicari di dalam fakta
sosial yang lainnya,Durkheim memberikan strategi tentang perbandingan terkendali sebagai metoda yang paling cocok untuk
mengembangkan penjelasan kausal dalam sosiologi.Pada intinya ,metoda
perbandingan terkendali merupakan klasifikasi silang dari fakta sosial tertentu
untuk menentukan sejauh mana mereka berhubungan.
2.
Solidaritas
dan tipe struktur sosial
Konsep
solidaritas sosial merupakan konsep sentral Emile Durkheim (1858-1917) dalam
mengembangkan teori sosiologi. Durkheim (dalam Lawang, 1994:181) menyatakan
bahwa solidaritas sosial merupakan suatu keadaan hubungan antara individu dan
atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut
bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Solidaritas menekankan
pada keadaan hubungan antar individu dan kelompok dan mendasari keterikatan
bersama dalam kehidupan dengan didukung nilai-nilai moral dan kepercayaan yang
hidup dalam masyarakat. Wujud nyata dari hubungan bersama akan melahirkan
pengalaman emosional, sehingga memperkuat hubungan antar mereka.
Solidaritas sosial masyarakat
terdiri dari dua bentuk yaitu:
a. Solidaritas sosial mekanik
Pandangan Durkheim mengenai masyarakat adalah sesuatu yang hidup, masyrakat
berpikir dan bertingkah laku dihadapkan kepada gejala – gejala sosial atau
fakta-fakta sosial yang seolah-olah berada di luar individu. Fakta sosial yang
berada di luar individu memiliki kekuatan untuk memaksa. Pada awalnya, fakta
sosial berasal dari pikiran atau tingkah laku individu, namun terdapat pula
pikiran dan tingkah laku yang sama dari individu-individu yang lain, sehingga
menjadi tingkah laku dan pikiran masyarakat, yang pada akhirnya menjadi fakta
sosial. Fakta sosial yang merupakan gejala umum ini sifatnya kolektif,
disesbabkan oleh sesuatu yang dipaksakan pada tiap-tiap individu.
Dalam masyarakat, manusia hidup bersama dan berinteraksi, sehingga timbul
rasa kebersamaan diantar mereka. Rasa kebersamaan ini milik masyarakat yang
secara sadar menimbulkan perasaan kolektif. Selanjutnya, perasaan kolektif yang
merupakan akibat (resultant) dari kebersamaan, merupakan hasil aksi dan reaksi
diantara kesadaran individual. Jika setiap kesadaran individual itu menggemakan
perasaan kolektif, hal itu bersumber dari dorongan khusus yang berasal dari perasaan
kolektif tersebut.
Argumentasi Durkheim, diantaranya pada kesadaran kolektif yang berlainan
dengan dari kesadaran individual terlihat pada tingkah laku kelompok..
Masyarakat bukanlah sekedar wadah untuk terwujudnya integrasi sosial yang
akan mendukung solidaritas sosial, melainkan juga pangkal dari kesadaran
kolektif dan sasaran utama dari perbuatan moral. Moralitas merupakan suatu
keinginan yang rasional. Jadi perbuatan moral bukanlah sekedar “kewajiban” yang
tumbuh dari dalam diri melainkan juga “kebaikan” ketika diri telah dihadapkan
dengan dunia sosial. Setiap individu yang melakukan pelanggaran nilai-nilai dan
norma-norma kolektif timbul rasa bersalah dan ketegangan dalam batin.
Nilai-nilai itu sudah merasuk dalam batin dan memaksa individu, sekalipun
pemaksaannya tidak langsung dirasakan karena proses pembatinan itu untuk
menyesuaikan diri.
Solidaritas mekanik tidak hanya
terdiri dari ketentuan yang umum dan tidak menentu dari individu pada kelompok,
kenyataannya dorongan kolektif terdapat dimana-mana, dan membawa hasil
dimana-mana pula. Dengan sendirinya, setiap kali dorongan itu berlangsung, maka
kehendak semua orang bergerak secara spontan dan seperasaan. Terdapat daya
kekuatan sosial yang hakiki yang berdasarkan atas kesamaan-kesamaan sosial, tujuannya
untuk memelihara kesatuan sosial. Hal inilah yang diungkapkan oleh hukum
bersifat represif (menekan). Pelanggaran yang dilakukan individu menimbulkan
reaksi terhadap kesadaran kolektif, terdapat suatupenolakkan karena tidak
searah dengan tindakan kolektif. Tindakan ini dapat digambarkan, misalnya
tindakan yang secara langsung mengungkapkan ketidaksamaan yang menyolok dengan
orang yang melakukannya dengan tipe kolektif, atau tindakan-tindakan itu
melanggar organ hati nurani umum.
b. Solidaritas sosial organik
Solidaritas organik berasal dari semakin terdiferensiasi dan kompleksitas
dalam pembagian kerja yang menyertai perkembangan sosial. Durkheim merumuskan
gejala pembagian kerja sebagai manifestasi dan konsekuensi perubahan dalam
nilai-nilai sosial yang bersifat umum. Titik tolak perubahan tersebut berasal
dari revolusi industri yang meluas dan sangat pesat dalam masyarakat.
Menurutnya, perkembangan tersebut tidak menimbulkan adanya disintegrasi dalam
masyarakat, melainkan dasar integrasi sosial sedang mengalami perubahan ke satu
bentuk solidaritas yang baru, yaitu solidaritas organik. Bentuk ini benar-benar
didasarkan pada saling ketergantungan di antara bagian-bagian yang
terspesialisasi.
Kesadaran kolektif pada masyarakat
mekanik paling kuat perkembangannya pada masyarakat sederhana, dimana semua
anggota pada dasarnya memiliki kepercayaan bersama, pandangan, nilai, dan
semuanya memiliki gaya hidup yang kira-kira sama. Pembagian kerja masih relatif
rendah, tidak menghasilkan heterogenitas yang tinggi, karena belum pluralnya
masyarakat. Lain halnya pada masyarakat organik, yang merupakan tipe masyarakat
yang pluralistik, orang merasa lebih bebas. Penghargaan baru terhadap
kebebasan, bakat, prestasi, dan karir individual menjadi dasar masyarakat pluralistik.
Kesadaran kolektif perlahan-lahan mulai hilang. Pekerjaan orang menjadi lebih
terspesialisasi dan tidak sama lagi, merasa dirinya semakin berbeda dalam
kepercayaan, pendapat, dan juga gaya hidup. Pengalaman orang menjadi semakin
beragam, demikian pula kepercayaan, sikap, dan kesadaran pada umumnya.
.
Kita dapat membandingkan sifat – sifat pokok dari masyarakat yang
didasarkan pada solidaritas mekanik dengan solidaritas organik.
|
SOLIDARITAS MEKANIK
|
SOLIDARITAS ORGANIK
|
|
Pembagian kerja rendah
|
Pembagian kerja tinggi
|
|
Kesadaran kolektif kuat
|
Kesadaran kolektif rendah
|
|
Hukum represif dominan
|
Hukum restitutif dominan
|
|
Individualisme rendah
|
Individualiasme tinggi
|
|
Secara relatif saling
ketergantungan rendah
|
Saling ketergantungan yang
tinggi
|
|
Konsensus terhadap pola-pola normatif penting
|
Konsensus pada nilai-nilai abstrak, dan umum penting
|
|
Keterlibatan komunitas dalam menghukum orang yang
menyimpang.
|
Badan-badan kontrol yang menghukum orang yang
menyimpang.
|
|
Bersifat primitif atau
pedesaan
|
Bersifat insdustrial-perkotaan
|
Disini Durkheim mengkaji masyarakat ideal berdasarkan
konsep solidaritas sosial. Solidaritas sosial menunjuk pada suatu keadaan
hubungan antara individu dan kelompok yang berdasarkan pada perasaan moral dan
kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional
bersama. Ikatan solidaritas sosial menurutnya lebih mendasar dari pada hubungan
kontraktual yang dibuat atas persetujuan rasional.
3. Ancaman
terhadap Solidaritas
a.Sumber-sumber
ketegangan dalam masyarakat Organik yang Kompleks
Dalam suatu
masyarakat dengan pembagian kerja yang sangat berkembang serta pola-pola
salingketergantungan yang kompleks,integrasi mungkin di rusakkan oleh
kooordinasi yang tidak memadai lagi antara orang-orang yang memiliki spesialisasi
yang tinggi yang kegiatan-kegiatannya tidak dapat dihubungkan menjadi satu,satu
ancaman yang lebih penting lagi terhadap solidaritas mekanik,berkembang dari
heterogenitas yang tinggi,ikatan bersama yang mempersatukan pelbagai anggota
masyarakat menjadi kendor.Durkheim melihat adanya nilai yang tinggi dalam
solidaritas kelompok pekerjaaan,melalui kelompok-kelompok itulah individu dapat
dihubungkan dengan keteraturan sosial yang lebih besar.
b.Integrasi
Sosial dan Angka Bunuh Diri
Angka bunuh
diri berbeda-beda menurut tingkat integrasi sosial.Durkheim mengidentifikasi
tiga tipe bunuh diri yaitu egoistik,anomik,dan altruistik.
c.Kemunculan
dan Dukungan terhadap Solidaritas
d.Hubungan
antara Orientasi Agama dan Struktur sosial.
e.Agama
dalam masyarakat Modern
f.Asal usul
bentuk-bentuk Pengetahuan dalam masyarakat.
Ø Kritikan
terhadap Teori Emille Durkheim
Tekanan
Durkheim pada tingkat analisa struktur sosial dan pada kenyataan tentang fakta
sosial,struktur sosial dan serupanya ditolak oleh beberapa ahli teori yang
berpengaruh antara lain max weber,weber mengemukakan bahwa satuan analisa
sosiologis yang fundamentak haruslah berupa tindakan seorang individu yang
sedang bertindak yang mempunyai arti,bukan fakta sosial yang mengatasi
individu,meskipun seperti Durkheim dia juga memperhatikan
kecenderungan-kecenderungan dan pola-pola yang berukuran besar.
Tekanan pada
solidaritas dan integrasi,marx memusatkan perhatiannya pada
ketegangan-ketegangan internal serta konflik yang tidak dihindarkan meluas
keseluruh masyarakat dan yang dinyatakan terutama dalam hubungan-hubungan
sosial yang bersifat antagonistik antara kelas-kelas yang
bertentangan,sebaliknya Durkheim menyinggung kelas sosial secara luas.
Ø Turunannya
-Robert K.Merton
Ø Persamaannya
-Menurut Emile Durkheim dan Robert
K.Merton sama-sama beranggapan masyarakat itu harus mempunyai suatu tujuan yang
jelas dan tujuan tersebut harus dicapai semaksimal mungkin. Terdapat juga
solidaritas yang dibedakan menjadi dua, yaitu kesamaan dan perbedaan.
-Emille Durkheim dan Robert K.Merton
juga beranggapan mengenai teori struktur sosial.
Referensi
Paul Johnson, Doyle. 1986. Teori
Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT Gramedia.
http://ronikurosaky.blogspot.com/2014/05/teori-integritas-sosial-menurut-emile.html

0 komentar:
Posting Komentar