Sabtu, 10 Januari 2015

Laporan KKL

Edit Posted by with No comments

PROSES SOSIALISASI RITUS KEAGAMAAN DAN ENKULTURASI
DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI BUDAYA DESA NGADAS
DALAM ERA GLOBAL
Kelompok 8
Abstrak
Artikel ini bertujuan mendeskripsikan proses sosialisasi dan pengasuhan anak pada masyarakat desa Ngadas serta agen-agen sosialisasi yang berperan dalam mempersiapkan anak agar dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat. Permasalahan dalam artikel ini adalah Proses sosialisasi yang dilakukan oleh masyarakat Ngadas yang dilandasi oleh tradisi. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa proses sosialisasi tidak sempurna menunjukkan kegagalan keluarga atau agen sosialisasi dalam proses penanaman nilai budaya masyarakat. Oleh sebab itu, usaha melakukan proses sosialisasi nilai norma selalu ditanamkan sebaik mungkin.
Kata kunci : sosialisasi, internalisasi, budaya, dan suku Tengger

PROCESS AND DISSEMINATION OF RELIGIOUS RITE enculturation
MAINTAINING THE EXISTENCE OF CULTURAL VILLAGE Ngadas
IN THE GLOBAL ERA

Abstract
            This article aims to describe the process of socialization and child care in rural communities Ngadas and socialization agents that play a role in preparing children to be able to adjust in society. Problems in this article is the process of socialization by society Ngadas guided by tradition. This is due to the assumption that the sosialisation process is not perfect show family failure or agent of socialization in the process of planting the cultural values of society. Therefore, the business process always instilled norm sosialisation as possible.
Key words: socialization, internalization, culture, ethnic Tengger






PENDAHULUAN
Budaya terbentuk dari banyak unsur yang kompleks, termasuk di dalamnya terdapat sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu juga harus dipelajari. Aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-kultural ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang yang berbeda latarbelakang kebudayaannya terlihat dalam definisi budaya. Demikian, kebudayaan itu dapat diartikan “ hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal.” Ada pendirian lain mengenai asal dari kata “kebudayaan” itu, ialah bahwa kata itu adalah suatu perkembangan dari majemuk budi-daya, artinya daya dari budi, kekuatan dari akal (Zoetmul, 1951). Budaya menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Menurut Ilmu Antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 2009:144). Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic (Soekanto, 2012:150). Menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat (Soekanto , 2012:151). Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat (Soekanto, 2012:150).
            Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Setiap masyarakat dalam suatu daerah pasti memiliki kebudayaan yang khas dan berbeda dengan kebudayaan masyarakat lain. Begitu pula kebudayaan yang ada pada masyarakat desa Ngadas.
Masyarakat desa Ngadas sampai saat ini masih memegang tradisi mereka. Bentuk apresiasi terhadap tradisi tersebut adalah masih adanya sesajen yang diletakkan di setiap sudut desa, tepi-tepi jalan, maupun rumah mereka. Sesajen tersebut di bungkus dengan kain berwarna kuning. Warna kuning sebagai lambang “Ning” supaya masyarakat menyampaikan kepada sang Pencipta untuk ning. Diletakkan di tepi jalan, tujuannya agar masyarakat selalu ingat kepada roh leluhur. Masyarakat Desa Ngadas juga mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok. Jagung yang sudah kering kemudian dikecros (ditumbuk)  memakai lumpang yang terbuat dari kayu, intinya membuang kulitnya dan setelah satu minggu baru bisa untuk dimasak. Setelah dimasak kemudian direndam dan menjadi nasi Aron. Sedangkan ketika musim panen tiba, masyarakat biasanya menjual hasil kebun mereka keluar Desa Ngadas atau istilah orang sana Bakul. Sedangkan ketika hari liburan, untuk mengisi waktu luang biasanya para warga desa menjual hasil buminya didepan rumah mereka masing-masing. Percaya pada moksa (sirna), yaitu bahwa apabila manusia telah mencapai moksa tidak akan terikat kembali pada punarbawa. Mereka akan berada pada tempat kedamaian abadi. Peranan Dukun Pandhita merupakan pimpinan masyarakat yang berperan memimpin upacara keagamaan. Kedudukan dukun lebih tinggi daripada modin dalam agama Islam, namun lebih rendah dari pedanda dalam masyarakat Bali. Dukun dipilih melalui musyawarah desa, diseleksi melalui ujian, serta diangkat oleh pemerintah. Dukun berfungsi memimpin upacara keagamaan dan dibantu oleh legen. Pada waktu memimpin upacara keagamaan, dukun mengenakan baju antrakusuma atau rasukan dukun dengan ikat kepala dan selempang, serta dilengkapi dengan alat-alat upacara seperti : prasen, genta, dan talam. Syarat menjadi dukun antara lain adalah: (1) berkemampuan, tekun, mampu menggali legenda, memiliki kedalaman ilmu, dan bertempat tinggal dekat dengan lokasi; (2) disetujui oleh masyarakat melalui musyawarah; dan (3) diangkat oleh pemerintah. Untuk memperkuat karisma dan wibawa, seorang dukun diwajibkan menjalankan tugas tersebut. Pada setiap bulan ke-7 dukun diharuskan melakukan mutih, yaitu selama satu bulan tidak makan garam, gula, dan tidak kumpul dengan istri. Itulah yang menarik dari masyarakat Tengger desa Ngadas, dan  kebudayaan itulah yang menjadi suatu khas dari masyarakat Tengger desa Ngadas. Hal tersebut merupakan pembeda antara masyarakat desa Ngadas dengan masyarakat lain, sehingga peneliti ingin mengkaji bentuk kebudayaan suku Tengger desa Ngadas serta mengkaji proses sosialisasidan internalisasi kebudayaan dari desa Ngadas.






  METODE PENELITIAN
            Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif adalah suatu penelitian yang berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu. Dalam penelitian ini, kami akan memaparkan secara deskriptif mengenai bentuk kebudayaan suku Tengger desa Ngadas, proses sosialisasi dan internalisasi budaya serta nilai norma di masyarakat desa Ngadas, sehingga kami menggunakan metode ini. Tempat penelitian yang kami kunjungi terletak di desa Ngadas Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo Provinsi jawa Timur. Subjek penelitian ini adalah masyarakat desa Ngadas di mana orangtua dan anak-anak sebagai informan inti dalam penelitian ini. Sedangkan informan kunci dalam penelitian ini adalah kepala desa Ngadas dan Dukun Pandhita. Objek penelitiannya adalah bahwa sosialisasi yang dilakukan oleh orangtua kepada anak-anak. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi langsung kepada beberapa narasumber seperti Bapak Sumartono, Ibu Suryati, Ibu Lilis, Jery, dan Lintang  untuk menggali data-data tentang proses sosialisasi dan internalisasi di sana. Penelitian menggunakan data primer yaitu mencari data melalui observasi dan wawancara di desa Ngadas. Selain itu, digunakan pula data sekunder agar data memiliki validitas untuk dapat ditarik suatu kesimpulan.
.







HASIL DAN PEMBAHASAN
Desa Ngadas disebut-sebut sebagai salah satu desa tertinggi di Indonesia. Terletak di ketinggian 2.000 meter dpl, sebuah desa di penghujung Kabupaten Malang. Desa ini merupakan satu dari 36 Desa Suku Bangsa Tengger yang tersebar dalam 4 Kabupaten/Kota. Sekitar 95% mata pencaharian masyarakat Ngadas adalah pada sektor pertanian. Lereng-lereng bukit yang berada di sekitar desa Ngadas penuh dengan petak-petak ladang garapan warga. Sementara 5% sisanya berprofesi sebagai pekerja pariwisata ataupun aparatur desa. Meskipun demikian, entah itu aparatur atau pekerja pariwisata, hampir dapat dipastikan bahwa mereka juga memiliki ladang untuk diolah. Dalam sejarahnya, masyarakat Suku Tengger dikenal sebagai petani-petani yang tangguh dalam mengolah kekayaan alam.
Kehidupan spiritual masyarakat Ngadas tidak terlepas dari keberadaan gunung Semeru. Mahameru, sebutan untuk puncak gunung Semeru dianggap sebagai gunung yang suci atau tempat bersemayam para dewa. Aktivitas masyarakat Ngadas dilakukan dari pagi hari hingga malam hari, di jalan-jalan kampung penuh dengan warga yang melakukan interaksi sosial. Pagi hari, biasanya tampak di beberapa titik lokasi ibu-ibu yang sedang berbelanja sembari berbincang satu sama lain. Sementara, para kaum laki-laki mempersiapkan diri untuk pergi ke ladang. Anak-anak masuk sekolah pukul 08.00 karena suhu pagi hari sangat dingin dan tidak memungkinkan bagi mereka untuk masuk pukul 07.00 seperti di tempat lain. Sebelum masuk sekolah, di beberapa lokasi tampak anak-anak yang sedang bermain. Malam harinya, di beberapa tempat para bapak menyalakan api unggun sembari berbincang. Sementara di ujung desa, terdapat sebuah pos kampling tempat para pemuda sibuk dengan berkirim pesan singkat. Hanya di tempat tersebut terdapat sinyal selular yang cukup kuat. Fasilitas hiburan modern lain sangat minim. Televisi, meskipun sudah ada sejak tahun 1980-an, namun tidak semua rumah memilikinya.
Satu hal yang tidak dapat ditoleransi dalam ajaran budaya ini adalah apabila seeorang tidak mengikuti upacara yang ada tanpa disertai alasan yang jelas. Sanksinya adalah diberi peringatan. Namun, satu hal yang menarik dalam aturan ini. Seperti kita ketahui, dalam setiap peraturan terdapat asas yang melatarbelakangi munculnya peraturan tersebut. Dan untuk aturan adat istiadat, seringkali asas gotong royong menjadi hal yang diutamakan
RELIGI DAN RITUS MASYARAKAT TENGGER
1.      Agama Masyarakat suku Tengger.
              Agama masyarakat suku Tengger adalah agama Hindu yang masih mewarisi tradisi Hindu sejak zaman kejayaan Majapahit. Namun saat ini juga masyarakat tersebut yang menganut agama lain yaitu: Islam, Kristen Protestan, Khatolik serta Budha. Meskipun demikian mayoritas masyarakat Tengger beragama Hindu Dharma. Masyarakat Hindu Dharma di desa Ngadas  tidak mengenal sistem kasta seperti di Bali. Mereka bebas menikah dengan penduduk sekitar maupun diluar desa Ngadas tanpa menilai strata sosialnya.  Mereka juga tidak dapat dapat dianggap sebagai kelompok etnis berbeda dari orang jawa yang lain. Mereka adalah orang Hindu tetapi tidak melakukan pembakaran mayat seperti orang Hindu di Bali. Pada umumnya jika ada Namun demikian, selama sejarah manusia Tengger daerahnya dikurangi oleh orang pendatang yang beragama Islam dari daerah lain di Jawa.
              Penduduk yang beragama Islam tersebut ada di bagian masyarakat desa Ngadas karena datang dari luar wilayah desa Ngadas atau masyarakat desa Ngadas yang menikah dengan orang yang beragama Islam kemudian berpindah agama menjadi muslim. Sedangkan Upacara adat yang dilaksanakan menunjukkan adanya salah satu upacara agama Hindu,yaitu Galungan. Di samping itu sejumlah mantra yang biasa diucapkan pada setiap upacara adatbanyak mengandung ajaran agama Hindu. Akhirnya, oleh pembina keagamaan, ditetapkanbahwa masyarakat Tengger beragama Hindu. Adat kepercayaan masyarakat Tengger tercermin pada cerita rakyat di kalangan masyarakat itu, berupa legenda yang berkaitan dengan Gunung Bromo dan Semeru. Kedua tempat tersebut dianggap sebagai tempat suci dalam melaksanakan upacara keagamaan. Tempat suci yang utama adalah pada Segara Wedhi (lautan pasir). Di samping itu, ada beberapa tempat dibawah pohon-pohon besar yang biasa untuk tempat sesajen. Segara Wedhi digunakan untuk upacara besar Kasada tiap tahun sekali.
2.      Upacara Keagamaan Masyarakat Suku Tengger
      Masyarakat Hindhu desa Ngadas memiliki ritual dan tradisi keagamaan, tradisi keagamaan tersebut telah diwariskan secara turun temurun. Tradisi agama Hindhu didesa Ngadas berbeda dengan tradisi agama Hindhu di Bali dan tidak dijumpai pada masyarakat Hindhu lainnya. Berikut akan diuraikan mengenai tradisi-tradisi masyarakat Hindhu desa Ngadas.
         Pertama, Pujan Karo (Bulan Karo) merupakan hari raya terbesar masyarakat Tengger. Upacara karo atau hari raya karo 2012. diawali tanggal 15 kalender saka Tengger. Masyarakat menyambutnya dengan penuh suka cita, mereka mengenakan pakaian baru, kadang pula membeli pakain hingga 2-5 pasang, perabotan pun juga baru. Makanan dan minuman pun juga melimpah pada adat ini masyarakat suku tengger juga melakukan anjang sana (silaturrahmi) kepada semua sanak saudara, tetangga semua masyarakat Tengger. Uniknya tiap kali berkunjung harus menikamati hidangan yang diberikan oleh tuan rumah. Tujuan penyelenggaraan upacara karo ini adalah: mengadakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa dan menghormati leluhurnya, memperingati asal-usul manusia, untuk kembali pada kesucian, dan untuk memusnahkan angkara murka.
         Kedua, Pujan Kapat (Bulan Keempat). Upacara kapat jatuh pada bulan keempat (papat) menurut tahun saka disebut pujan kapat, bertujuan untuk memohon berkah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin yang dilakukan bersama- sama disetiap desa (rumah kepala desa) yang dihadiri para pini sepuh desa, dukun, dan masyarakat desa.
         Ketiga, Pujan Kapitu (Bulan Tujuh) Pujan kapitu (bulan tujuh), semua pini sepuh desa dan keharusan pandita dukun melakukan tapa brata dalam arti diawali dengan pati geni (nyepi) satu hari satu malam, tidak makan dan tidak tidur. Selanjutnya diisi dengan puasa mutih (tidak boleh makan makanan yang enak), biasanya hanya makan nasi jagung dan daun–daunan selama satu bulan penuh. Setelah selesai ditutup satu hari dengan pati geni. Pada bulan kapitu ini masyarakat suku tengger tidak diperbolehkan mempunyai hajat.
         Keempat, Pujan Kawolu. Upacara ini jatuh pada bulan kedelapan (wolu) tanggal 1 tahun saka. Pujan kawolu sebagai penutupan megeng. Masyarakat mengirimkan sesaji ke kepala desa, dengan tujuan untuk keselamatan bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang. Pujan kawolu dilakukan bersama dirumah kepala desa.
         Kelima, Pujan Kasanga. Upacara ini jatuh pada bulan kesembilan (sanga) tanggal 24 setelah purnama tahun saka. Masyarakat berkeliling desa dengan membunyikan kenyongan dan membawa obpr. Upacara diawali oleh para wanita yang mengantarkan sesaji ke kepal desa, untuk dimantrai oleh pendeta, selanjutnya pendeta dan para sesepuh desa membentuk barisan, berjalan mengelilingi desa. Tujuan mengadakan upacara ini adalah memohon kepada Sang Hyang Widi Wasa untuk keselamatan masyarakat tengger. Masyarakat bersama anak–anak keliling desa membawa alat kesenian dan obor.
         Keenam, Kasada (Bulan Dua Belas). Upacara kasada dilaksanakan tnggal 14 dan 15 dilakukan di ponten pure luhur, semua masyarakat tengger berkumpul menjelang pagi. Tidak hanya masyarakat Tengger yang beragama Hindu saja, tetapi semua masyarakat Tengger yang beragama lainnya. Setelah upacara, melabuhkan sesaji berupa hasil bumi yang sudah dimantrai dukun kekawah gunung Bromo. Tidak hanya upacara saja tetapi juaga bermusyawarah dan bersilaturrahmi dengan dukun dan masyarakat Tengger. Upacara dilaksanakan pada saat purnama bulan kasada (ke dua belas) tahun saka, upacara ini juga disebut dengan hari Raya Kurba. Biasanya lima hari sebelum upacara Yadnya kasada, diadakan berbagai tontonan seperti: tari-tarian, balapan kuda di lautan pasir, jalan santai, pameran. Sekitar pukul 05.00 Pandita dari masing-masing desa, serta masyarakat Tengger mendaki gunung Bromo untuk melempar kurban (sesaji) ke kawah gunung bromo. Setelah pendeta melempar ongkeknya (tempat sesaji) baru diikuti oleh masyarakat lainnya.
PROSES ENKULTURASI BUDAYA PADA MASYARAKAT NGADAS
Enkulturasi mengacu pada proses di mana kultur (budaya) ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kita mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui agen. Orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama dibidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka. (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas). Kita dapat melihat wujud Enkulturasi dalam masyarakat Ngadas dalam wujud adanya pewarisan nilai dan norma serta sagala bentuk tata pelaksanaan ritual adat kepada anak dari masyarakat Ngadas.
1.      Peran agen sosialisasi primer dalam proses internalisasi budaya lokal.
Agen Sosialisasi Primer merupakan agen sosialisasi yang pertama kali ataupun agen sosialisasi pokok di dalam masyarakat. Salah satu agen sosialisasi primer yaitu keluarga. Pada dasarnya fungsi keluarga secara umum di dalam masyarakat luas itu sama yaitu fungsi reproduksi, ekonomi, pendidikan, dan sosialisasi. Sosialisasi primer atau sosialisasi pertama yaitu proses sosialisasi yang dialami seseorang pada masa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat.
            Proses sosialisasi di desa Ngadas dilakukan kepada anak-anak sejak kecil dengan menerapkan nilai dan norma yang ada di masyarakat, dan menghindari perbuatan-perbuatan yang menyimpang di dalam masyarakat seperti perbuatan malima. Malima adalah suatu perbuatan yang sebisa mungkin harus di hindari oleh masyarakat desa Ngadas, malima itu sendiri merupakan singkatan dari perbuatan madon (bermain perempuan atau selingkuh), mabuk (mengkonsumsi minuman beralkohol), madat (minum candu dan narkoba), main (judi), dan maling. Sejauh ini pelanggaran yang berupa malima mulai berkurang jumlahnya, setelah adanya korban jiwa yang meninggal akibat mabuk-mabukan. Kemudian untuk mengantisipasi dampak dari perilaku madon, pemerintah desa mengadakan kontrol sosial yang berupa petek’an. Untuk menghindari perilaku malima seoseorang harus bersikap sesuai nilai dan norma yang ada secara benar.
            Keluarga dalam masyarakat Ngadas mengajarkan nilai dan norma dengan cara persuasif yaitu anak-anak di dalam keluarga diajak untuk berperan aktif dalam kehidupan masyarakat dan sebagai hasil akhir dari proses sosialisasi dari keluarga (agen sosialisasi primer) adalah anak mampu hidup bersosial dan menjalani kehidupannya pada masyarakat secara seimbang dan terhindar dari perilaku malima. Masyarakat Tengger mempunyai alat kontrol yang cukup kuat untuk mencegah terjadinya penyimpangan. Di dalam masyarakat tengger ada suatu istilah yang disebut petek’an. Petek itu dari kata menekan atau mengurut. Jadi, Ada seorang dukun yang mengurut perut para gadis untuk mengetahui adanya suatu kehamilan di dalam perut mereka. Manfaat dari petek’an sendiri cukup ampuh untuk menjaga kemurnian anak-anak gadis mereka dari penyimpangan. Petek’an adalah upaya pencegahan kehamilan yang dilakukan masyarakat Tengger untuk mengetahui apakah anak gadis mereka hamil ataukah tidak.
Biasanya petek’an dilakukan untuk mengetahui siapakah para gadis perawan yang hamil diluar nikah. Jadi, ada suatu upaya menyuruh semua para gadis-gadis yang masih perawan untuk melakukan petek’an. Bila ada gadis yang tidak datang untuk melakukan petek’an maka akan ada dukun bayi yang didatangkan oleh warga ke rumah gadis yang tidak datang tersebut. Hal tersebut dilakukan karena adnya suatu kekhawatiran adanya upaya dari pihak gadis untuk menyembunyikan kebenaran jikalau anak tersebut melakukan penyimpangan dan hamil diluar nikah. Adanya petek’an dilakukan untuk pembersihan desa dari hal-hal yang tidak patut atau hal-hal yang dilarang agama ataupun hukum adat.
2.    Peran agen sosialisasi sekunder dalam proses internalisasi budaya.
Agen Sosialisasi Sekunder merupakan agen sosialisasi kedua. Sosialisasi sekunder dilakukan di luar lingkungan keluarga seperti di lingkungan masyarakat, sekolah dan teman sebaya. Biasanya terjadi melalui teman sepermainan, sekolah maupun media massa. Proses sosialisasi ini sangat penting dalam kehidupan anak-anak desa Ngadas terutama dalam mensosialisasikan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat Tengger, desa Ngadas. Sementara itu, pola pengasuhan juga mempunyai peran penting pula dalam pembentukan kepribadian anak. Ada dua pola pengasuhan yang terjadi dalam masyarakat yaitu sosialisasi represif (repressive socialization) dan sosialisasi partisipatif (partisipatory socialization). Dengan sedikitnya intensitas waktu bersama anak karena kesibukan orangtua dalam berladang, anak-anak desa Ngadas lebih banyak terpengaruh oleh teman sebayanya sebagai agen sosialisasi sekunder.
 Disini terlihat bahwa teman sebayalah yang sangat memberikan andil terhadap perubahan yang ada pada anak. Hal ini dikarenakan banyaknya waktu yang tersedia untuk mereka habiskan dengan teman sebaya. Dampak dari pergaulan yang terjadi baik disadari maupun tidak, perilaku serta kepribadian anak di desa Ngadas sangat dipengaruhi oleh itu serta didukung arus globalisasi yang sangat deras sehingga perubahan tata kelakuan pada remaja di desa Ngadas. Sangat tidak bisa dipungkiri akan terus berubah, sebagai contoh anak-anak di desa Ngadas lebih senang bermain sepeda motor dan mengendarinya dengan kebut-kebutan. Bahkan dari hasil wawancara dengan beberapa anak disana, mereka malahan merasa bangga jika bisa mengendarai kendaraan bermotor seperti motor trail, pickup, bahkan jeep sekalipun.
3.      Proses sosialisasi ritus keagamaan pada anak-anak suku Tengger.
Setiap agama di desa Ngadas memiliki petinggi–petinggi agama sendiri yang mereka jadikan sebagai pemimpin atau orang yang menjadi penuntun umatnya masing–masing. Pemimpin yang menangani urusan agama Hindhu disebut dukun Pandhita, sedangkan Islam pemimpinnya lebih dikenal dengan Ustadz atau Imam. Pemuka–pemuka agama ini memiliki peran yang besar dalam menjaga kerukunan antar umat beragama dan menjaga kestabilitasan Desa Ngadas. Mereka tidak hanya memimpin di saat acara keagamaan saja, bahkan pada saat ada masalah apapun terlepas masalah agama, pemuka agama lebih dipercaya untuk dimintai solusi daripada kepala desanya. Keberadaan pemuka agama di sini memang sangat vital karena dianggap sebagai pemimpin yang sangat dipercayai oleh rakyatnya. Hal yang lebih menarik lagi Desa Ngadas adalah masyarakat di desa itu memiliki hari besar sendiri yang dinamakan Hari Raya Karo. Seluruh masyarakat Ngadas baik itu Hindu ataupun Muslim tumpah ruah menjadi satu dalam acara peringatan Hari Raya Karo. Pada hari raya ini ada semacam pertunjukan-pertunjukan kesenian tradisional, dan ada upacara adat sendiri yang dipimpin seorang dukun.
Hari Raya Karo ini adalah hari untuk mengenang arwah para leluhurnya. Selain hari raya Karo, ada juga upacara adat suku Tengger yang bernama Kasodo yaitu untuk memberikan sesaji ke kawah gunung Bromo. Masyarakat suku Tengger percaya bahwa dengan memberi sesaji ke kawah gunung Bromo maka mereka akan diberi keselamatan dan gunung Bromo tidak meletus. Saat perayaan hari besar agama Hindhu seperti hari raya Nyepi, hal yang menarik ketika banyak anak-anak di Desa Ngadas yang memakai pakaian hitam. Anak-anak suku tersebut diajarkan untuk melestarikan kebudayaan Tengger. Pada hari-hari keagamaan, orangtua berperan penting dalam memberikan pengarahan kepada anak-anak mereka untuk ikut serta bersembahyang di tempat peribadatan. Anak-anak tersebut melakukan peribadatan ke sebuah tempat suci yang bernama sanggar. Dengan pengarahan orang tua, anak-anak dari berbagai usia yang berbeda-beda mulai dari SD,SMP hingga SMA berkumpul. Pandita menjadi agen sosialisasi penting dalam proses bidang keagamaan. Orang yang mengurusi hal-hal yang menyangkut keagamaan disebut Pandita. Dengan dibantu oleh Pak Tinggi, sosialisasi dalam beribadah dapat terjaga. Anak-anak terlibat aktif dalam upacara-upacara keagamaan. Alhasil dengan adanya hubungan kekerabatan dan rasa solidaritas sesama agama maka tercipta kelestarian budaya yang selalu mereka junjung tinggi.
Pada masyarakat Ngadas mayoritas memeluk agama Hindhu  dan sebagiannya kecilnya lagi memeluk agama Islam. Seseorang memeluk agama Islam, Hindhu ataupun agama yang lain  yang pertama mendapatkan sosialisasi dari orangtua sebab orangtua-lah yang pertama memperkenalkan agama. Orangtua sebagai faktor penentu dan menjadi peran utama dalam sebuah keluarga yang mendidik anaknya dalam mementukan agama. Sebab keluarga merupakan salah satu bentuk sosialisasi primer yang mana dalam sosialisai primer sendiri merupakan sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat. Warna kepribadian seorang individu akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya. Kemudian setelah tumbuh dewasa seorang individu (anak) dapat berpindah agama sesuai dengan kepercayaan atau keinginannya sendiri yang mendapat sosialisasi dari lingkungannya tanpa larangan dari orangtua ataupun keluarganya, sebab dalam masyarakat desa Ngadas mempunyai tingkat toleransi yang tinggi dalam memeluk sebuah agama. Seorang individu diyakini mampu memilih atau menentukan yang terbaik bagi diri mereka sendiri sehingga keluarga ataupun masyarakat hanya bisa mendukung dan menyerahkan pilihan yang akan diambil seorang individu tersebut asalkan masih memegang teguh nilai dan norma yang berlaku dalam masyrakat.
4.    Bromo Green Wisata Sebagai agen Sosialisasi ekonomi kreatif.
              Dalam masyarakat Desa Ngadas banyak dijumpai anak-anak yang mempunyai jiwa kewirausahaan untuk menunjang sektor ekonomi. Kami menjumpai banyak anak-anak yang mampu memanfaatkan sektor pariwisata sebagai suatu keuntungan. Ketika berada di homestay dijumpai anak-anak yang menjajakan barang-barang yang menghangatkan seperti kaos tangan, kupluk, syal, kaos kaki dan masih banyak lagi yang lain. Dari informasi bu Lilis, pemilik homestay, anak-anak tersebut aktif bekerja di malam hari hingga esok hari. Bahkan pada waktu pagi sekitar jam 3, banyak ank-anak yang rela keluar rumah untuk menjajakan barang dagangan mereka kepada wisatawan. Banyak juga dari mereka yang pergi menjajakan dagangan mereka hingga Pananjakan. Mereka baru pulang pada siang hari setelah selesai menjajakan dagangan mereka.
Kehidupan perekonomian pada di Desa Ngadas pada umumnya, sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Masyarakat Ngadas dikenal sebagai petani tradisional yang tangguh, bertempat tinggal berkelompok-kelompok di bukit-bukit yang tidak jauh dari lahan pertanian mereka. Suhu udara yang dingin membuat mereka betah bekerja di ladang sejak pagi hingga sore hari. Persentase penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani sangat besar, yakni 95%, sedangkan sebagian kecil dari mereka (5%) hidup sebagai pegawai negeri, pedagang, buruh, dan usaha jasa.Selain dibidang pertanian, masyarakat desa Ngadas juga menggeluti pada bidang jasa. Pada bidang jasa yang mereka tekuni diantaranya adalah penyewaan homestay, penyewaan kuda tunggang untuk mendaki para wisatawaan, penjualan souvenir, dan menjadi supir jeep.

Proses sosialisasi yang terjadi dalam bidang perekonomian pada masyarakat Desa Ngadas kebayakan terjadi secara turun temurun. Sebab kebanyakan individu pada masyarakat Desa Ngadas tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena perekonomian yang terbatas sehingga menjadikan ketrampilan ataupun pengetahuan mereka yang terbatas, sehingga seorang individu lebih terfokus dalam berladang yang semenjak kecil sudah mulai diajarkan utuk berladang membantu orang tuanya. Jadi ketampilan yang dimiliki seorang individu pada masyarakat desa ngadas lebih menonjol ke bidang pertanian. Namun selain pertanian juga terdapat beberapa mata pencaharian lain yang terdapat pada masyarakat Desa Ngadas. Diantaranya adalah penyewaan homestay, penyewaan kuda tunggang untuk mendaki para wisatawaan, penjualan souvenir, dan menjadi supir jeep. Mata pencaharian tersebut muncul dari sosialisasi yang dibawa oleh masyarakat sekitar untuk memenuhi fasilitas para wisatawan yang mengunjungi gunung bromo dalam menyajikan pesona alam yang ditampilkannya.













PENUTUP

Simpulan
           Agen sosialisasi sangat berperan penting dalam pewarisan budaya masyarakat Tengger. Proses sosialisasi sosialisasi dilakukan untuk pembentukan sikap dan perilaku individu agar sesuai dengan nilai dan norma yang ada di masyarakat. Terdapat proses sosialisasi primer seperti keluarga dan sosialisasi sekunder seperti teman sepermainan, sekolah maupun media masa. Agen sosialisasi berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai dan norma generasi penerus Desa Ngadas terkait dengan peran mereka terhadap berbagai ritual keagamaan maupun adat-istiadat yang ada.  Sosialisasi juga digunakan untuk menjaga keteraturan hidup masyarakat dan menjaga integrasi kelompok dalam masyarakat.
           Selain itu, sosialisasi dalam masyarakat Ngadas seperti petek’an juga dilakukan sebagai upaya pencegahan terhadap perilaku yang menyimpang yang akan dilakukan seseorang atau sebagai dasar pengendalian sosial. Oleh karena itu, sosialisasi dan pengasuhan sangat diperlukan untuk menjaga eksistensi kebudayaan masyarakat Tengger sebagai salah satu keunikan budaya yang ada di Indonesia.











DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press.
Koentjaraningrat. 1990. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: UI Press.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Soekanto, S. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Soekanto, S. 2009. Sosiologi Keluarga: Tentang Ikhwal Keluarga, Remaja, dan Anak. Jakarta: Rineka Cipta.
Barker, C. 2004. Cultural Studies: Teori dan Praktis. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Usman, H dan Purnomo S A. 2004. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara










0 komentar:

Posting Komentar