PROSES
SOSIALISASI RITUS KEAGAMAAN DAN ENKULTURASI
DALAM
MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI BUDAYA DESA NGADAS
DALAM
ERA GLOBAL
Kelompok
8
Abstrak
Artikel ini bertujuan
mendeskripsikan proses sosialisasi dan
pengasuhan anak pada masyarakat desa Ngadas serta agen-agen sosialisasi
yang berperan dalam mempersiapkan anak
agar dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat. Permasalahan
dalam artikel ini adalah Proses
sosialisasi yang dilakukan oleh masyarakat Ngadas yang dilandasi oleh
tradisi. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa proses sosialisasi tidak sempurna menunjukkan kegagalan
keluarga atau agen sosialisasi dalam proses penanaman nilai budaya masyarakat.
Oleh sebab itu, usaha melakukan proses sosialisasi nilai norma selalu ditanamkan sebaik mungkin.
Kata
kunci : sosialisasi, internalisasi, budaya, dan suku Tengger
PROCESS
AND DISSEMINATION OF RELIGIOUS RITE enculturation
MAINTAINING
THE EXISTENCE OF CULTURAL VILLAGE Ngadas
IN
THE GLOBAL ERA
Abstract
This
article aims to describe the process of socialization and child care in rural
communities Ngadas and socialization agents that play a role in preparing
children to be able to adjust in society. Problems in this article is the
process of socialization by society Ngadas guided by tradition. This is due to
the assumption that the sosialisation process is not perfect show family
failure or agent of socialization in the process of planting the cultural
values of society. Therefore, the business process always instilled norm sosialisation
as possible.
Key
words: socialization, internalization, culture, ethnic Tengger
PENDAHULUAN
Budaya terbentuk dari
banyak unsur yang kompleks, termasuk di dalamnya terdapat sistem agama dan politik, adat istiadat,
bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara
genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan
menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu juga harus dipelajari. Aspek
budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-kultural ini tersebar dan
meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Beberapa
alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang yang
berbeda latarbelakang kebudayaannya terlihat dalam definisi budaya. Demikian, kebudayaan itu dapat diartikan “ hal-hal yang
bersangkutan dengan budi dan akal.” Ada pendirian lain mengenai asal dari kata
“kebudayaan” itu, ialah bahwa kata itu adalah suatu perkembangan dari majemuk budi-daya, artinya daya dari budi,
kekuatan dari akal (Zoetmul, 1951). Budaya menyediakan suatu kerangka yang
koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya
meramalkan perilaku orang lain.
Menurut Ilmu Antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil
karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia
dengan belajar (Koentjaraningrat,
2009:144). Herskovits memandang
kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi
yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic (Soekanto, 2012:150). Menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat (Soekanto , 2012:151). Menurut
Edward Burnett Tylor, kebudayaan
merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan
lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat (Soekanto, 2012:150).
Dari berbagai
definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat
pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran
manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia
sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat
nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial,
religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia
dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan sangat erat
hubungannya dengan masyarakat. Setiap masyarakat dalam suatu daerah pasti
memiliki kebudayaan yang khas dan berbeda dengan kebudayaan masyarakat lain. Begitu pula kebudayaan
yang ada pada masyarakat desa Ngadas.
Masyarakat desa
Ngadas sampai saat ini masih memegang tradisi mereka. Bentuk apresiasi terhadap tradisi tersebut adalah masih adanya sesajen yang
diletakkan di setiap sudut desa, tepi-tepi jalan, maupun rumah mereka. Sesajen tersebut di bungkus dengan
kain berwarna kuning. Warna kuning
sebagai lambang “Ning” supaya masyarakat menyampaikan kepada sang Pencipta
untuk ning. Diletakkan di tepi jalan, tujuannya agar masyarakat selalu ingat
kepada roh leluhur. Masyarakat Desa Ngadas juga mengkonsumsi jagung sebagai
makanan pokok. Jagung yang sudah kering kemudian dikecros (ditumbuk) memakai lumpang
yang terbuat dari kayu, intinya membuang kulitnya dan setelah satu minggu baru
bisa untuk dimasak. Setelah dimasak kemudian direndam dan menjadi nasi Aron.
Sedangkan ketika musim panen tiba, masyarakat biasanya menjual hasil kebun
mereka keluar Desa Ngadas atau istilah orang sana Bakul. Sedangkan ketika hari
liburan, untuk mengisi waktu luang biasanya para warga desa menjual hasil
buminya didepan rumah mereka masing-masing. Percaya pada
moksa (sirna), yaitu bahwa apabila
manusia telah mencapai moksa tidak akan terikat kembali
pada punarbawa. Mereka akan berada pada tempat kedamaian abadi. Peranan Dukun Pandhita merupakan
pimpinan masyarakat yang berperan memimpin upacara keagamaan. Kedudukan dukun lebih tinggi daripada modin
dalam agama Islam, namun lebih rendah dari pedanda dalam masyarakat Bali. Dukun dipilih melalui musyawarah desa, diseleksi melalui ujian, serta
diangkat oleh pemerintah. Dukun berfungsi memimpin upacara keagamaan dan dibantu oleh
legen. Pada waktu memimpin upacara keagamaan, dukun
mengenakan baju antrakusuma atau rasukan dukun dengan ikat
kepala dan selempang, serta dilengkapi dengan alat-alat upacara seperti : prasen, genta, dan talam. Syarat menjadi dukun antara lain adalah: (1) berkemampuan, tekun, mampu
menggali legenda, memiliki kedalaman ilmu, dan bertempat tinggal dekat dengan
lokasi; (2) disetujui oleh masyarakat melalui musyawarah;
dan (3) diangkat oleh pemerintah. Untuk memperkuat karisma dan wibawa, seorang
dukun diwajibkan menjalankan tugas tersebut. Pada setiap bulan ke-7 dukun
diharuskan melakukan mutih, yaitu
selama satu bulan tidak makan garam, gula, dan
tidak kumpul dengan istri. Itulah yang menarik dari masyarakat
Tengger desa Ngadas, dan kebudayaan
itulah yang menjadi suatu khas dari masyarakat Tengger desa Ngadas. Hal
tersebut merupakan pembeda antara masyarakat desa Ngadas dengan masyarakat
lain, sehingga peneliti ingin mengkaji bentuk kebudayaan suku Tengger desa
Ngadas serta mengkaji proses sosialisasidan internalisasi kebudayaan dari desa
Ngadas.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif adalah suatu penelitian yang
berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku
manusia dalam situasi tertentu. Dalam penelitian ini, kami akan memaparkan
secara deskriptif mengenai bentuk kebudayaan suku Tengger desa Ngadas, proses
sosialisasi dan internalisasi budaya serta nilai norma di masyarakat desa
Ngadas, sehingga kami menggunakan metode ini. Tempat penelitian yang kami
kunjungi terletak di desa Ngadas Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo
Provinsi jawa Timur. Subjek penelitian ini adalah masyarakat desa Ngadas di
mana orangtua dan anak-anak sebagai informan inti dalam penelitian ini.
Sedangkan informan kunci dalam penelitian ini adalah kepala desa Ngadas dan Dukun
Pandhita. Objek penelitiannya adalah bahwa sosialisasi yang dilakukan oleh
orangtua kepada anak-anak. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini
menggunakan wawancara dan observasi langsung kepada beberapa narasumber seperti
Bapak Sumartono, Ibu Suryati, Ibu Lilis, Jery, dan Lintang untuk menggali data-data tentang proses
sosialisasi dan internalisasi di sana. Penelitian menggunakan data primer yaitu
mencari data melalui observasi dan wawancara di desa Ngadas. Selain itu,
digunakan pula data sekunder agar data memiliki validitas untuk dapat ditarik
suatu kesimpulan.
.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Desa
Ngadas disebut-sebut sebagai salah satu desa tertinggi di Indonesia. Terletak
di ketinggian 2.000 meter dpl, sebuah desa di penghujung Kabupaten Malang. Desa
ini merupakan satu dari 36 Desa Suku Bangsa Tengger yang tersebar dalam 4
Kabupaten/Kota. Sekitar 95% mata pencaharian masyarakat Ngadas adalah pada
sektor pertanian. Lereng-lereng bukit yang berada di sekitar desa Ngadas penuh
dengan petak-petak ladang garapan warga. Sementara 5% sisanya berprofesi
sebagai pekerja pariwisata ataupun aparatur desa. Meskipun demikian, entah itu
aparatur atau pekerja pariwisata, hampir dapat dipastikan bahwa mereka juga
memiliki ladang untuk diolah. Dalam sejarahnya, masyarakat Suku Tengger dikenal
sebagai petani-petani yang tangguh dalam mengolah kekayaan alam.
Kehidupan
spiritual masyarakat Ngadas tidak terlepas dari keberadaan gunung Semeru.
Mahameru, sebutan untuk puncak gunung Semeru dianggap sebagai gunung yang suci atau
tempat bersemayam para dewa. Aktivitas masyarakat Ngadas dilakukan dari pagi
hari hingga malam hari, di jalan-jalan kampung penuh dengan warga yang
melakukan interaksi sosial. Pagi hari, biasanya tampak di beberapa titik lokasi
ibu-ibu yang sedang berbelanja sembari berbincang satu sama lain. Sementara,
para kaum laki-laki mempersiapkan diri untuk pergi ke ladang. Anak-anak masuk
sekolah pukul 08.00 karena suhu pagi hari sangat dingin dan tidak memungkinkan
bagi mereka untuk masuk pukul 07.00 seperti di tempat lain. Sebelum masuk
sekolah, di beberapa lokasi tampak anak-anak yang sedang bermain. Malam
harinya, di beberapa tempat para bapak menyalakan api unggun sembari
berbincang. Sementara di ujung desa, terdapat sebuah pos kampling tempat para
pemuda sibuk dengan berkirim pesan singkat. Hanya di tempat tersebut terdapat
sinyal selular yang cukup kuat. Fasilitas hiburan modern lain sangat minim.
Televisi, meskipun sudah ada sejak tahun 1980-an, namun tidak semua rumah
memilikinya.
Satu
hal yang tidak dapat ditoleransi dalam ajaran budaya ini adalah apabila
seeorang tidak mengikuti upacara yang ada tanpa disertai alasan yang jelas.
Sanksinya adalah diberi peringatan. Namun, satu hal yang menarik dalam aturan
ini. Seperti kita ketahui, dalam setiap peraturan terdapat asas yang
melatarbelakangi munculnya peraturan tersebut. Dan untuk aturan adat istiadat,
seringkali asas gotong royong menjadi hal yang diutamakan
RELIGI DAN RITUS MASYARAKAT
TENGGER
1. Agama Masyarakat suku Tengger.
Agama masyarakat suku Tengger adalah
agama Hindu yang masih mewarisi tradisi Hindu sejak zaman kejayaan Majapahit. Namun saat ini juga
masyarakat tersebut yang menganut agama lain yaitu: Islam, Kristen Protestan,
Khatolik serta Budha. Meskipun demikian mayoritas masyarakat Tengger beragama Hindu Dharma.
Masyarakat Hindu Dharma di desa Ngadas
tidak mengenal sistem kasta seperti di Bali. Mereka bebas menikah dengan
penduduk sekitar maupun diluar desa Ngadas tanpa menilai strata sosialnya. Mereka juga tidak dapat dapat dianggap sebagai kelompok
etnis berbeda dari orang jawa yang lain. Mereka adalah orang Hindu tetapi tidak
melakukan pembakaran mayat seperti orang Hindu di Bali. Pada umumnya jika ada Namun demikian, selama sejarah
manusia Tengger daerahnya dikurangi oleh orang pendatang yang beragama Islam
dari daerah lain di Jawa.
Penduduk
yang beragama Islam tersebut ada di bagian masyarakat desa Ngadas karena datang
dari luar wilayah desa Ngadas atau masyarakat desa Ngadas yang menikah dengan
orang yang beragama Islam kemudian berpindah agama menjadi muslim. Sedangkan Upacara
adat yang dilaksanakan menunjukkan adanya salah satu upacara agama Hindu,yaitu
Galungan. Di samping itu sejumlah mantra yang biasa diucapkan pada setiap
upacara adatbanyak mengandung ajaran agama Hindu. Akhirnya, oleh pembina
keagamaan, ditetapkanbahwa masyarakat Tengger beragama Hindu. Adat kepercayaan
masyarakat Tengger tercermin pada cerita rakyat di kalangan masyarakat itu,
berupa legenda yang berkaitan dengan Gunung Bromo dan Semeru. Kedua tempat
tersebut dianggap sebagai tempat suci dalam melaksanakan upacara keagamaan.
Tempat suci yang utama adalah pada Segara Wedhi (lautan pasir). Di samping itu, ada beberapa tempat dibawah
pohon-pohon besar yang biasa untuk tempat sesajen. Segara Wedhi digunakan untuk
upacara besar Kasada tiap tahun sekali.
2. Upacara Keagamaan Masyarakat Suku
Tengger
Masyarakat
Hindhu desa Ngadas memiliki ritual dan tradisi keagamaan, tradisi keagamaan
tersebut telah diwariskan secara turun temurun. Tradisi agama Hindhu didesa
Ngadas berbeda dengan tradisi agama Hindhu di Bali dan tidak dijumpai pada
masyarakat Hindhu lainnya. Berikut akan diuraikan mengenai tradisi-tradisi
masyarakat Hindhu desa Ngadas.
Pertama, Pujan Karo
(Bulan Karo) merupakan hari raya terbesar masyarakat Tengger. Upacara karo atau hari raya karo 2012.
diawali
tanggal 15 kalender saka Tengger. Masyarakat menyambutnya dengan penuh suka
cita, mereka mengenakan pakaian baru, kadang pula membeli pakain hingga 2-5
pasang, perabotan pun juga baru. Makanan dan minuman pun juga melimpah pada
adat ini masyarakat suku tengger juga melakukan anjang sana (silaturrahmi)
kepada semua sanak saudara, tetangga semua masyarakat Tengger. Uniknya tiap
kali berkunjung harus menikamati hidangan yang diberikan oleh tuan rumah.
Tujuan penyelenggaraan upacara karo ini adalah: mengadakan pemujaan terhadap
Sang Hyang Widhi Wasa dan menghormati leluhurnya, memperingati asal-usul
manusia, untuk kembali pada kesucian, dan untuk memusnahkan angkara murka.
Kedua,
Pujan Kapat (Bulan Keempat). Upacara kapat jatuh pada bulan keempat (papat) menurut tahun
saka disebut pujan kapat, bertujuan untuk memohon berkah keselamatan serta
selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin yang dilakukan bersama-
sama disetiap desa (rumah kepala desa) yang dihadiri para pini sepuh desa, dukun,
dan masyarakat desa.
Ketiga,
Pujan Kapitu (Bulan Tujuh) Pujan kapitu (bulan
tujuh), semua pini sepuh desa dan keharusan pandita dukun melakukan tapa
brata dalam arti diawali dengan pati geni (nyepi) satu hari satu malam, tidak
makan dan tidak tidur. Selanjutnya diisi dengan puasa mutih (tidak boleh makan
makanan yang enak), biasanya hanya makan nasi jagung dan daun–daunan selama
satu bulan penuh. Setelah selesai ditutup satu hari dengan pati geni. Pada
bulan kapitu ini masyarakat suku tengger tidak diperbolehkan mempunyai hajat.
Keempat,
Pujan
Kawolu. Upacara ini jatuh pada bulan kedelapan (wolu) tanggal 1 tahun saka. Pujan kawolu sebagai penutupan megeng. Masyarakat mengirimkan sesaji ke kepala desa, dengan tujuan
untuk keselamatan bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang. Pujan
kawolu dilakukan bersama dirumah kepala desa.
Kelima,
Pujan
Kasanga. Upacara ini jatuh pada bulan kesembilan (sanga) tanggal 24 setelah purnama tahun saka. Masyarakat
berkeliling desa dengan membunyikan kenyongan dan membawa obpr. Upacara diawali
oleh para wanita yang mengantarkan sesaji ke kepal desa, untuk dimantrai oleh
pendeta, selanjutnya pendeta dan para sesepuh desa membentuk barisan, berjalan
mengelilingi desa. Tujuan mengadakan upacara ini adalah memohon kepada Sang
Hyang Widi Wasa untuk keselamatan masyarakat tengger. Masyarakat bersama anak–anak
keliling desa membawa alat kesenian dan obor.
Keenam,
Kasada
(Bulan Dua Belas). Upacara kasada
dilaksanakan tnggal 14 dan 15 dilakukan di ponten pure luhur, semua masyarakat
tengger berkumpul menjelang pagi. Tidak hanya masyarakat Tengger yang beragama
Hindu saja, tetapi semua masyarakat Tengger yang beragama lainnya. Setelah
upacara, melabuhkan sesaji berupa hasil bumi yang sudah dimantrai dukun kekawah
gunung Bromo. Tidak hanya upacara saja tetapi juaga bermusyawarah dan
bersilaturrahmi dengan dukun dan masyarakat Tengger. Upacara dilaksanakan pada
saat purnama bulan kasada (ke dua belas) tahun saka, upacara ini juga disebut
dengan hari Raya Kurba. Biasanya lima hari sebelum upacara Yadnya kasada,
diadakan berbagai tontonan seperti: tari-tarian, balapan kuda di lautan pasir,
jalan santai, pameran. Sekitar pukul 05.00 Pandita dari masing-masing desa, serta
masyarakat Tengger
mendaki gunung Bromo untuk melempar kurban (sesaji) ke kawah gunung bromo.
Setelah pendeta melempar ongkeknya (tempat sesaji) baru diikuti oleh masyarakat
lainnya.
PROSES ENKULTURASI
BUDAYA PADA MASYARAKAT NGADAS
Enkulturasi mengacu pada
proses di mana kultur (budaya)
ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kita mempelajari
kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan
melalui agen.
Orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan
guru-guru utama dibidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka. (Wikipedia
bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas). Kita dapat melihat wujud Enkulturasi
dalam masyarakat Ngadas dalam wujud adanya pewarisan nilai dan norma serta
sagala bentuk tata pelaksanaan ritual adat kepada anak dari masyarakat Ngadas.
1.
Peran agen sosialisasi primer dalam proses internalisasi budaya lokal.
Agen
Sosialisasi Primer merupakan agen sosialisasi yang pertama kali ataupun agen
sosialisasi pokok di dalam masyarakat. Salah satu agen
sosialisasi primer yaitu keluarga. Pada dasarnya
fungsi keluarga secara umum di dalam masyarakat luas itu sama yaitu fungsi
reproduksi, ekonomi, pendidikan, dan sosialisasi. Sosialisasi primer atau sosialisasi pertama yaitu proses
sosialisasi yang dialami seseorang pada masa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat.
Proses sosialisasi di desa Ngadas dilakukan kepada anak-anak sejak kecil dengan menerapkan nilai dan
norma yang ada di masyarakat, dan menghindari perbuatan-perbuatan yang
menyimpang di dalam masyarakat seperti perbuatan malima. Malima adalah suatu
perbuatan yang sebisa mungkin harus di hindari oleh masyarakat desa Ngadas, malima itu sendiri merupakan singkatan
dari perbuatan madon (bermain
perempuan atau selingkuh), mabuk
(mengkonsumsi minuman beralkohol), madat
(minum candu dan narkoba), main (judi),
dan maling. Sejauh ini pelanggaran
yang berupa malima mulai berkurang jumlahnya, setelah adanya korban jiwa yang meninggal
akibat mabuk-mabukan. Kemudian untuk
mengantisipasi dampak dari perilaku madon,
pemerintah desa mengadakan kontrol sosial yang berupa petek’an. Untuk menghindari perilaku malima seoseorang harus bersikap sesuai
nilai dan norma yang ada secara benar.
Keluarga dalam masyarakat Ngadas mengajarkan nilai dan norma dengan cara persuasif yaitu anak-anak di dalam keluarga diajak untuk
berperan aktif dalam kehidupan masyarakat dan sebagai hasil akhir dari proses
sosialisasi dari keluarga (agen sosialisasi primer) adalah anak mampu hidup
bersosial dan menjalani kehidupannya pada masyarakat secara seimbang dan
terhindar dari perilaku malima. Masyarakat Tengger
mempunyai alat kontrol yang cukup kuat untuk mencegah terjadinya penyimpangan.
Di dalam masyarakat tengger ada suatu istilah yang disebut petek’an. Petek itu dari
kata menekan atau mengurut. Jadi, Ada seorang dukun yang mengurut perut para
gadis untuk mengetahui adanya suatu kehamilan di dalam perut mereka. Manfaat
dari petek’an sendiri cukup ampuh
untuk menjaga kemurnian anak-anak gadis mereka dari penyimpangan. Petek’an adalah upaya pencegahan kehamilan
yang dilakukan masyarakat Tengger untuk mengetahui apakah anak gadis mereka
hamil ataukah tidak.
Biasanya petek’an dilakukan untuk mengetahui siapakah para gadis perawan
yang hamil diluar nikah. Jadi, ada suatu upaya menyuruh semua para gadis-gadis
yang masih perawan untuk melakukan petek’an.
Bila ada gadis yang tidak datang untuk melakukan petek’an maka akan ada dukun bayi yang didatangkan oleh warga ke
rumah gadis yang tidak datang tersebut. Hal tersebut dilakukan karena adnya
suatu kekhawatiran adanya upaya dari pihak gadis untuk menyembunyikan kebenaran
jikalau anak tersebut melakukan penyimpangan dan hamil diluar nikah. Adanya petek’an dilakukan untuk pembersihan
desa dari hal-hal yang tidak patut atau hal-hal yang dilarang agama ataupun
hukum adat.
2.
Peran agen sosialisasi sekunder
dalam proses internalisasi budaya.
Agen
Sosialisasi Sekunder merupakan agen sosialisasi kedua.
Sosialisasi sekunder dilakukan di luar lingkungan keluarga seperti di
lingkungan masyarakat, sekolah dan teman sebaya. Biasanya terjadi melalui teman
sepermainan, sekolah maupun media massa. Proses sosialisasi ini sangat penting dalam
kehidupan anak-anak desa Ngadas terutama dalam mensosialisasikan nilai-nilai
yang ada dalam masyarakat Tengger, desa Ngadas. Sementara itu, pola pengasuhan
juga mempunyai peran penting pula dalam pembentukan kepribadian anak. Ada dua
pola pengasuhan yang terjadi dalam masyarakat yaitu sosialisasi represif (repressive socialization) dan
sosialisasi partisipatif (partisipatory
socialization). Dengan sedikitnya intensitas waktu bersama anak karena
kesibukan orangtua dalam berladang, anak-anak desa Ngadas lebih banyak
terpengaruh oleh teman sebayanya sebagai agen sosialisasi sekunder.
Disini terlihat bahwa teman
sebayalah yang sangat memberikan andil terhadap perubahan yang ada pada anak. Hal ini dikarenakan banyaknya
waktu yang tersedia untuk mereka
habiskan dengan teman sebaya. Dampak dari
pergaulan yang terjadi baik disadari maupun tidak, perilaku serta kepribadian anak di desa Ngadas sangat
dipengaruhi oleh itu serta didukung arus globalisasi yang sangat deras sehingga
perubahan tata kelakuan pada remaja di desa Ngadas. Sangat tidak bisa dipungkiri akan terus berubah, sebagai
contoh anak-anak di desa Ngadas lebih senang bermain sepeda motor dan
mengendarinya dengan kebut-kebutan. Bahkan dari hasil wawancara dengan beberapa
anak disana, mereka malahan merasa bangga jika bisa mengendarai kendaraan
bermotor seperti motor trail, pickup, bahkan jeep sekalipun.
3.
Proses sosialisasi ritus keagamaan pada anak-anak suku Tengger.
Setiap agama di desa Ngadas memiliki
petinggi–petinggi agama sendiri yang mereka jadikan sebagai pemimpin atau orang
yang menjadi penuntun umatnya masing–masing. Pemimpin yang menangani urusan
agama Hindhu disebut dukun Pandhita, sedangkan Islam pemimpinnya lebih dikenal
dengan Ustadz atau Imam. Pemuka–pemuka agama ini memiliki peran yang besar
dalam menjaga kerukunan antar umat beragama dan menjaga kestabilitasan Desa
Ngadas. Mereka tidak hanya memimpin di saat acara keagamaan saja, bahkan pada
saat ada masalah apapun terlepas masalah agama, pemuka agama lebih dipercaya
untuk dimintai solusi daripada kepala desanya. Keberadaan pemuka agama di sini
memang sangat vital karena dianggap sebagai pemimpin yang sangat dipercayai
oleh rakyatnya. Hal yang lebih menarik lagi Desa Ngadas adalah masyarakat di
desa itu memiliki hari besar sendiri yang dinamakan Hari Raya Karo. Seluruh
masyarakat Ngadas baik itu Hindu ataupun Muslim tumpah ruah menjadi satu dalam
acara peringatan Hari Raya Karo. Pada hari raya ini ada semacam pertunjukan-pertunjukan
kesenian tradisional, dan ada upacara adat sendiri yang dipimpin seorang dukun.
Hari Raya Karo ini adalah hari untuk
mengenang arwah para leluhurnya. Selain hari raya Karo, ada juga upacara adat
suku Tengger yang bernama Kasodo yaitu untuk memberikan sesaji ke kawah gunung
Bromo. Masyarakat suku Tengger percaya bahwa dengan memberi sesaji ke kawah
gunung Bromo maka mereka akan diberi keselamatan dan gunung Bromo tidak
meletus. Saat perayaan hari besar agama Hindhu seperti hari raya Nyepi, hal
yang menarik ketika banyak anak-anak di Desa Ngadas yang memakai pakaian hitam.
Anak-anak suku tersebut diajarkan untuk melestarikan
kebudayaan Tengger. Pada hari-hari keagamaan, orangtua berperan penting dalam
memberikan pengarahan kepada anak-anak mereka untuk ikut serta bersembahyang di
tempat peribadatan. Anak-anak tersebut melakukan
peribadatan ke sebuah tempat suci yang bernama sanggar. Dengan pengarahan orang tua,
anak-anak dari berbagai usia yang berbeda-beda mulai dari SD,SMP hingga SMA
berkumpul. Pandita menjadi agen
sosialisasi penting dalam proses bidang keagamaan. Orang yang mengurusi hal-hal
yang menyangkut keagamaan disebut Pandita. Dengan dibantu oleh Pak Tinggi,
sosialisasi dalam beribadah dapat terjaga.
Anak-anak terlibat aktif dalam upacara-upacara keagamaan.
Alhasil dengan adanya hubungan kekerabatan dan rasa
solidaritas sesama agama maka tercipta kelestarian budaya yang selalu mereka
junjung tinggi.
Pada masyarakat Ngadas mayoritas
memeluk agama Hindhu dan sebagiannya
kecilnya lagi memeluk agama Islam. Seseorang memeluk agama Islam, Hindhu
ataupun agama yang lain yang pertama mendapatkan
sosialisasi dari orangtua sebab orangtua-lah yang pertama memperkenalkan agama.
Orangtua sebagai faktor penentu dan menjadi peran utama dalam sebuah keluarga
yang mendidik anaknya dalam mementukan agama. Sebab keluarga merupakan salah
satu bentuk sosialisasi primer yang mana dalam sosialisai primer sendiri
merupakan sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan
belajar menjadi anggota masyarakat. Warna kepribadian seorang individu akan
sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak
dengan anggota keluarga terdekatnya. Kemudian setelah tumbuh dewasa seorang
individu (anak) dapat berpindah agama sesuai dengan kepercayaan atau
keinginannya sendiri yang mendapat sosialisasi dari lingkungannya tanpa
larangan dari orangtua ataupun keluarganya, sebab dalam masyarakat desa Ngadas mempunyai tingkat toleransi yang tinggi
dalam memeluk sebuah agama. Seorang individu diyakini mampu memilih atau
menentukan yang terbaik bagi diri mereka sendiri sehingga keluarga ataupun
masyarakat hanya bisa mendukung dan menyerahkan pilihan yang akan diambil
seorang individu tersebut asalkan masih memegang teguh nilai dan norma yang
berlaku dalam masyrakat.
4.
Bromo Green Wisata Sebagai agen
Sosialisasi ekonomi kreatif.
Dalam
masyarakat Desa Ngadas banyak dijumpai anak-anak yang mempunyai jiwa
kewirausahaan untuk menunjang sektor ekonomi. Kami menjumpai banyak anak-anak
yang mampu memanfaatkan sektor pariwisata sebagai suatu keuntungan. Ketika
berada di homestay dijumpai anak-anak yang menjajakan barang-barang yang
menghangatkan seperti kaos tangan, kupluk, syal, kaos kaki dan masih banyak
lagi yang lain. Dari informasi bu Lilis, pemilik homestay, anak-anak tersebut aktif bekerja di malam hari hingga
esok hari. Bahkan pada waktu pagi sekitar jam 3, banyak ank-anak yang rela
keluar rumah untuk menjajakan barang dagangan mereka kepada wisatawan. Banyak
juga dari mereka yang pergi menjajakan dagangan mereka hingga Pananjakan.
Mereka baru pulang pada siang hari setelah selesai menjajakan dagangan mereka.
Kehidupan perekonomian pada di Desa Ngadas pada
umumnya, sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani.
Masyarakat Ngadas dikenal sebagai petani tradisional yang tangguh, bertempat
tinggal berkelompok-kelompok di bukit-bukit yang tidak jauh dari lahan pertanian
mereka. Suhu udara yang dingin membuat mereka betah bekerja di ladang sejak
pagi hingga sore hari. Persentase penduduk yang bermata pencaharian sebagai
petani sangat besar, yakni 95%, sedangkan sebagian kecil dari mereka (5%) hidup
sebagai pegawai negeri, pedagang, buruh, dan usaha jasa.Selain dibidang
pertanian, masyarakat desa Ngadas juga menggeluti pada bidang jasa. Pada bidang
jasa yang mereka tekuni diantaranya adalah penyewaan homestay, penyewaan kuda
tunggang untuk mendaki para wisatawaan, penjualan souvenir, dan menjadi supir
jeep.
Proses sosialisasi yang terjadi dalam bidang
perekonomian pada masyarakat Desa Ngadas kebayakan terjadi secara turun
temurun. Sebab kebanyakan individu pada masyarakat Desa Ngadas tidak
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena perekonomian yang
terbatas sehingga menjadikan ketrampilan ataupun pengetahuan mereka yang
terbatas, sehingga seorang individu lebih terfokus dalam berladang yang
semenjak kecil sudah mulai diajarkan utuk berladang membantu orang tuanya. Jadi
ketampilan yang dimiliki seorang individu pada masyarakat desa ngadas lebih
menonjol ke bidang pertanian. Namun selain pertanian juga terdapat beberapa
mata pencaharian lain yang terdapat pada masyarakat Desa Ngadas. Diantaranya
adalah penyewaan homestay, penyewaan kuda tunggang untuk mendaki para
wisatawaan, penjualan souvenir, dan menjadi supir jeep. Mata pencaharian
tersebut muncul dari sosialisasi yang dibawa oleh masyarakat sekitar untuk
memenuhi fasilitas para wisatawan yang mengunjungi gunung bromo dalam
menyajikan pesona alam yang ditampilkannya.
PENUTUP
Simpulan
Agen
sosialisasi sangat berperan penting dalam pewarisan budaya masyarakat Tengger.
Proses sosialisasi sosialisasi dilakukan untuk pembentukan sikap dan perilaku
individu agar sesuai dengan nilai dan norma yang ada di masyarakat. Terdapat
proses sosialisasi primer seperti keluarga dan sosialisasi sekunder seperti
teman sepermainan, sekolah maupun media masa. Agen sosialisasi berfungsi untuk
menanamkan nilai-nilai dan norma generasi penerus Desa Ngadas terkait dengan
peran mereka terhadap berbagai ritual keagamaan maupun adat-istiadat yang ada. Sosialisasi juga digunakan untuk menjaga
keteraturan hidup masyarakat dan menjaga integrasi kelompok dalam masyarakat.
Selain
itu, sosialisasi dalam masyarakat Ngadas seperti petek’an juga dilakukan sebagai upaya pencegahan terhadap perilaku
yang menyimpang yang akan dilakukan seseorang atau sebagai dasar pengendalian
sosial. Oleh karena itu, sosialisasi dan pengasuhan sangat diperlukan untuk
menjaga eksistensi kebudayaan masyarakat Tengger sebagai salah satu keunikan
budaya yang ada di Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI
Press.
Koentjaraningrat. 1990. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: UI
Press.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:
Rineka Cipta.
Soekanto, S. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta:
Rajawali Pers.
Soekanto, S. 2009. Sosiologi
Keluarga: Tentang Ikhwal Keluarga,
Remaja, dan Anak. Jakarta: Rineka Cipta.
Barker, C. 2004. Cultural Studies: Teori dan Praktis.
Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Usman, H dan
Purnomo S A.
2004. Metodologi Penelitian Sosial.
Jakarta: Bumi Aksara

0 komentar:
Posting Komentar